Kamis, 14 Mei 2009

Just to remember











masih ingat nggak dengan foto2 ini? yup betul.. ini gambar waktu acara syawalan Al Ikhlas group di Pantai Depok, tanggal brp ya.. lupa .. maaf ya.... nggak minta ijin dulu sama yang bersangkutan ... hehe.. gpp kan.. siapa aja tu yang ada di situ?? tebak aja sendiri.

Special to : mbak diah, mbak diana, mbak antik, mbak prili, mbak ullie, (sapa lagi ya?) .... semoga kalian tetap selalu ingat dengan kami, bagaimanapun juga kita akan selalu menjadi keluarga besarrrrr......... dan semoga tali silaturahim tetap terjaga.. :). (ingat dengan teman2 aja, nggak usah ingat lembaganya hehe..). May Allah bless you all......

Test

Test IQ buat Anda

Coba itung dulu.... kalo nyerah, baru liat jawaban. ini beneran lho!
Begini:
Jika sekarang ibunya 21 tahun lebih tua dari anaknya.6 tahun kemudian, umur ibunya 5 kali lipat umur anaknya. Pertanyaannya :Bapaknya sekarang ada dimana ?

Sekali lagi, ini serius !
Silahkan anda berpikir dan menjawab secara ilmiah/matematis. Kalo menyerah atau sudah menjawab, silahkan cek jawaban anda dengan jawaban yang benar di bawah ini.
Udah ... kalo nggak cerdas, nggak usah marah...

Sekarang ibunya (M) 21 tahun lebih tua dari anaknya (A).
M = A + 21
6 tahun ke depan, umur ibunya jadi 5 kali lipat umur anak
M + 6 = (A + 6) x 5
A + 21 + 6 = (A + 6) x 5
A + 27 = 5A + 30
27-30 = 5A - A
-3 = 4A
A = -3/4
Berarti umur anaknya sekarang -3/4 tahun atau - 9 bulan.
Berarti anaknya sekarang belum lahir (lahir 9 bulan kemudian)

hehe... serius amat !!

Selasa, 12 Mei 2009

Syukur

lain syakartum laa aziidannakum
"If you are grateful (to Me), I Shall most certainly give you more and more"

Gua kehidupan

Dua orang pemuda tampak berdiskusi di sebuah mulut gua. Sesekali, mereka memandang ke arah dalam gua yang begitu gelap. Gelap sekali! Hingga, tak satu pun benda yang tampak dari luar. Hanya irama suara serangga yang saling bersahutan. “Guru menyuruh kita masuk ke sana. Menurutmu, gimana? Siap?” ucap seorang pemuda yang membawa tas besar. Tampaknya, ia begitu siap dengan berbagai perbekalan.

“Menurut petunjuk guru, gua ini bukan sekadar gelap. Tapi, panjang dan banyak stalagnit, kelelawar, dan serangga,” sahut pemuda yang hanya membawa tas kecil. Orang ini seperti punya kesiapan lain di luar perbekalan alat. “Baiklah, mari kita masuk!” ajaknya sesaat kemudian. Tidak menyangka dengan ajakan spontan itu, pemuda bertas besar pun gagap menyiapkan senter. Ia masuk gua beberapa langkah di belakang pemuda bertas kecil. “Aneh!” ucapnya kemudian. Ia heran dengan rekannya yang masuk tanpa penerangan apa pun. Dari mulai beriringan, perjalanan keduanya mulai berjarak. Pemuda bertas besar berjalan sangat lambat. Ia begitu asyik menyaksikan keindahan isi gua melalui senternya: kumpulan stalagnit yang terlihat berkilau karena tetesan air jernih, panorama gua yang membentuk aneka ragam bentukan unik, dan berbagai warna-warni serangga yang berterbangan karena gangguan cahaya. “Aih, indahnya!” gumamnya tak tertahan. Keasyikan itu menghilangkannya dari sebuah kesadaran. Bahwa ia harus melewati gua itu dengan selamat dan tepat waktu. Bahkan ia tidak lagi tahu sudah di mana rekan seperjalanannya. Ia terus berpindah dari satu panorama ke panorama lain, dari satu keindahan ke keindahan lain. Di ujung gua, sang guru menanyakan rahasia pemuda bertas kecil yang bisa jauh lebih dulu tiba. “Guru…,” ucap sang pemuda begitu tenang. “…dalam gelap, aku tidak lagi mau mengandalkan mata zhahir. Mata batinkulah yang kuandalkan. Dari situ, aku bisa merasakan bimbingan hembusan angin ujung gua, kelembaban cabang jalan gua yang tak berujung, batu besar, dan desis ular yang tak mau diganggu,” jelas sang pemuda begitu meyakinkan.
****

Ada banyak “gua” dalam hidup ini. Gua ketika seseorang kehilangan pekerjaan. Gua di saat gadis atau lajang terus-menerus tertinggal peluang berjodoh. Gua di saat orang alim menjadi sulit dipercaya. Gua ketika bencana begitu buta. Dan, berbagai “gua” lain yang kadang dalam gelapnya menyimpan seribu satu keindahan yang membuai.

Sebagian kita, suka atau tidak, harus menempuh rute jalannya yang gelap, lembab, dan penuh jebakan. Sayangnya, tidak semua kita mampu menyiapkan bekal secara pas. Kita kadang terjebak dengan kelengkapan alat. Dan, melupakan bekalan lain yang jauh lebih jitu dan berdaya guna: kejernihan mata hati.

Mata hatilah yang mampu menembus pandangan di saat “gelap”. Mata hatilah yang bisa membedakan antara angin tuntunan dengan yang tipuan. Kejernihannya pula yang bisa memantulkan ‘cahaya’ yang sejati. (from MN)

Jumat, 01 Mei 2009

Be Profesional


Kita ditantang untuk bekerja tanpa mengenal lelah agar dapat meraih
keunggulan dalam pekerjaan kita.

Tak semua orang terpanggil untuk menekuni pekerjaan profesional atau
spesialisasi; bahkan lebih sedikit lagi
yang naik ke tingkat kejeniusan dalam seni dan ilmu; banyak yang menjadi
pekerja di pabrik,ladang, dan jalanan.
Tapi, tak ada pekerjaan yang tak berarti.

Semua pekerjaan yang mengangkat kemanusiaan itu memiliki martabat dan
kepentingan, dan harus dilaksanakan dengan keunggulan yang sungguh-sungguh.

Senin, 27 April 2009

Cari Kerja Lagi

Berpartisipasi, mewakili perusahaan dalam sebuah event job fair merupakan pengalaman tersendiri. Ratusan bahkan ribuan lulusan perguruan tinggi berbondong-bondong menyerbu seluruh stand perusahaan. Jadi ingat jaman dulu setelah lulus kuliah, kita pun mungkin juga seperti mereka. mencari pekerjaan yang cocok dengan background pendidikan kita dan sesuai dengan apa yang kita bayangkan dan kita inginkan. Setelah mendapatkan pekerjaan yang sudah lama kita inginkan, sudah sepantasnya dan seharusnya kita bersyukur pada Allah yang telah membukakan pintu rizki bagi kita. Benarkah demikian?? Ya. Lalu mengapa banyak orang yang dengan mudahnya keluar dari perusahaan tanpa memikirkannya matang2, hanya menuruti emosi sesaat yang mungkin bisa menjerumuskan. Padahal kalo kita mau sejenak merenung, di luar sana masih buanyaaak sekali orang yang belum mempunyai kesempatan untuk bekerja, masih nganggur luntang-lantung dengan titel sarjana. Kalo memang sudah ada pekerjaan di tempat yang lain/baru, mungkin nggak akan jadi masalah. Tapi kalo belum ada pekerjaan pengganti, sementara kita harus menafkahi keluarga, gimana jadinya? Oke, kalo itu terpaksa dilakukan karena tidak tahan dengan kondisi perusahaan yang selalu bergejolak. Namun untuk membuat keputusan resignpun harus tetap dipikirkan masak2, kalo perlu pake sholat istikharah. Nah, kalo seperti itu mungkin semua orang akan setuju. Di jaman krisis seperti sekarang ini, susah sekali untuk mencari pekerjaan yang (kita pengennya) sesuai background pendidikan kita. Whatever lah, yang penting kerja.
Tapi gimana ya menyikapinya jika dalam sebuah perusahaan 'lalu lintas' karyawan yang keluar masuk sangat cepat? Maksudnya, banyak karyawan yang mengajukan resign secara mendadak, kemudian rekrut lagi yang baru. Pasti ada alasan tersendiri. Dan harusnya kita pertanyakan manajemen seperti apa yang digulirkan? Seharusnya pemimpin perusahaan pun juga sadar ketika banyak karyawan-karyawan terbaiknya memilih mundur dari sana. What happened?? Mungkin ada kebijakan2 yang salah, manajemen yang kacau dari pemimpin yang berwenang di perusahaan tsb. yang harus diperbaiki kalo masih ingin perusahaan itu disupport oleh karyawan-karyawan yang memiliki banyak potensi. Sebetulnya keinginan karyawan sendiri tidaklah muluk2, selama hak2 mereka terpenuhi, kewajiban dilaksanakan dengan baik, ada sistem reward yang memacu semangat karyawan untuk meningkatkan prestasinya, gaya kepemimpinan yang lebih friendly tidak arogan, insyaAllah karyawan pun juga akan merasa nyaman. kalo sudah merasa nyaman, pekerjaan akan dilakukan dengan baik, dan hasilnya akan lebih baik pula... Bukankah perusahaan juga yang akan diuntungkan, isn't it ?? Jawab aja sendiri.. (ini perusahaannya di negeri antah barantah lho.. )

Hati yang Menyapa

Begitu pentingnya komunikasi, sehingga upaya yang dilakukan untuk meningkatkan ketrampilan komunikasi terus menerus mengalami perkembangan, baik berbasis teknologi maupun dengan hati (by heart). Di tengah-tengah gencarnya kemajuan teknologi informasi, pendekatan sentuhan (human touch) tetap memegang suatu peranan penting. Misalnya, sms memang praktis dan murah, namun ketika keluarga atau sahabat mendengar langsung suara kita, sekalipun just say hello, jauh lebih bermakna. Dari sini tampak bahwa komunikasi merupakan usaha, pengorbanan serta dorongan kejernihan hati untuk mau membuka percakapan dan mendengarkan orang lain lebih seksama. Hari ini, ketika kita teringat masih ada masalah yang mengganjal sehingga menutup pintu komunikasi kita selama ini, baik dalam lingkungan keluarga, maupun dengan pimpinan, rekan kerja atau sahabat, maka inilah saat untuk berinisiatif memulai. Dilandasi hati yang tulus, kerendahan hati dan niat baik kita melangkah lebih dulu untuk menyapa. Perkara yang bersangkutan menerima atau tidak, sudah bukan bagian kita lagi, yang penting dari kita sudah memulai yang baik dan menjadi catatan tersendiri dalam 'Buku Kehidupan' yang dimiliki Sang Khalik....